Kekuatan fisik merupakan fondasi yang paling mendasar bagi seorang pegulat untuk bisa mendominasi lawan di atas matras. Di Sumatera Utara, para pelatih di PGSI Medan tengah melakukan sebuah terobosan unik yang menggabungkan dua mazhab pengembangan fisik yang berbeda. Mereka menjalankan sebuah eksperimen kekuatan yang membandingkan efektivitas metode latihan beban tradisional dengan peralatan modern yang berbasis teknologi. Melalui studi kasus terhadap para atlet binaannya, PGSI Medan berupaya mencari formula latihan yang paling efisien untuk menghasilkan otot yang tidak hanya besar secara volume, tetapi juga eksplosif dan memiliki daya tahan tinggi saat memasuki ronde-ronde krusial.
Metode latihan tradisional yang diuji dalam eksperimen kekuatan ini melibatkan penggunaan benda-benda alam yang sering ditemukan di sekitar lingkungan Medan, seperti mengangkat batu besar, memikul kayu log, hingga memanjat tali tambang yang tebal. Keunggulan dari metode tradisional ini adalah kemampuannya dalam melatih otot-otot pendukung (stabilizer muscles) yang sering kali tidak tersentuh oleh mesin gym. Pegulat yang terbiasa mengangkat benda dengan bentuk yang tidak beraturan seperti batu akan memiliki cengkeraman tangan yang jauh lebih kuat dan stabil. Hal ini sangat berguna dalam situasi gulat yang sesungguhnya, di mana tubuh lawan selalu bergerak secara dinamis dan tidak terprediksi layaknya beban besi yang kaku.
Di sisi lain, eksperimen kekuatan ini juga mengadopsi perangkat modern seperti mesin isokinetic dan latihan berbasis velocity (VBT). Teknologi ini memungkinkan pelatih untuk mengukur kecepatan setiap gerakan angkatan secara digital. Kelebihannya adalah akurasi data yang tidak terbantahkan; pelatih bisa mengetahui kapan seorang atlet mulai mengalami kelelahan saraf sehingga latihan bisa segera dihentikan sebelum terjadi risiko cedera berlebih. Latihan modern ini sangat efektif untuk membangun kekuatan ledak (power) yang sangat spesifik untuk gerakan seperti bantingan atau takedown cepat. Dengan bantuan sains, pembentukan otot menjadi lebih terukur dan tidak membuang-buang energi atlet secara sia-sia pada gerakan yang tidak diperlukan.
Hasil awal dari eksperimen kekuatan di PGSI Medan menunjukkan bahwa kedua metode tersebut memiliki keunikan yang saling melengkapi. Atlet yang hanya menggunakan mesin modern cenderung memiliki kekuatan yang besar namun terkadang kurang lincah dalam menangani beban tubuh lawan yang “liar”. Sebaliknya, atlet yang hanya berlatih secara tradisional memiliki ketangguhan luar biasa namun sering kali kesulitan dalam mencapai puncak performa (peaking) tepat waktu karena kurangnya kontrol terhadap volume latihan.
