Dalam dunia gulat profesional, berat badan dan komposisi tubuh adalah dua variabel yang menentukan kelayakan seorang atlet untuk bertanding di kelasnya masing-masing. Di Sumatera Utara, manajemen Nutrisi Pegulat menjadi salah satu pilar utama dalam pemusatan latihan. Para pelatih dan ahli gizi di lingkungan PGSI Medan menerapkan aturan yang sangat ketat mengenai pola makan, termasuk larangan keras bagi para atlet untuk mengonsumsi makanan berminyak atau gorengan, terutama saat mendekati jadwal pertandingan resmi. Aturan ini bukan sekadar soal menjaga estetika tubuh, melainkan memiliki dasar ilmiah yang kuat terkait dengan efisiensi metabolisme, kecepatan gerak, dan ketahanan fisik seorang pegulat di atas matras.
Alasan medis pertama di balik larangan ini adalah mengenai proses pencernaan. Makanan yang digoreng mengandung lemak trans dan lemak jenuh dalam kadar tinggi yang sangat sulit dan lama untuk dicerna oleh sistem pencernaan manusia. Ketika seorang pegulat mengonsumsi gorengan jelang tanding, tubuh akan memfokuskan energi yang sangat besar untuk proses pencernaan tersebut. Akibatnya, aliran darah yang seharusnya mengalir ke otot-otot besar untuk memberikan tenaga ledak justru tersedot ke sistem pencernaan. Kondisi ini sering kali menyebabkan perut terasa kembung, begah, dan tubuh menjadi terasa berat atau lamban saat harus melakukan manuver bantingan yang membutuhkan kecepatan sepersekian detik.
Selain masalah pencernaan, gorengan memiliki kepadatan kalori yang tidak sebanding dengan Nutrisi Pegulat yang diberikan. Bagi atlet di Medan yang harus menjaga berat badan agar tetap masuk dalam kategori kelasnya, gorengan adalah musuh utama yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan secara instan melalui penumpukan lemak, bukan massa otot. Lebih bahaya lagi, konsumsi lemak jenuh berlebih dapat menyebabkan peradangan pada tingkat seluler. Peradangan ini menghambat proses pemulihan otot setelah sesi latihan yang berat. Seorang pegulat profesional membutuhkan asupan nutrisi yang mampu meregenerasi sel dengan cepat, sementara gorengan justru memberikan beban tambahan bagi liver dan jantung untuk bekerja lebih keras memproses racun dan lemak jahat.
Tim nutrisi di Medan juga menekankan bahwa gorengan dapat mengganggu stabilitas energi atlet selama bertanding. Makanan berminyak sering kali dikonsumsi bersamaan dengan karbohidrat olahan yang dapat menyebabkan lonjakan gula darah sesaat, yang kemudian diikuti dengan penurunan drastis atau sugar crash. Dalam pertandingan gulat yang intens, stabilitas energi sangatlah krusial. Seorang atlet membutuhkan energi dari karbohidrat kompleks dan protein murni yang dilepaskan secara perlahan dan stabil. Dengan mengganti gorengan dengan makanan yang dikukus, dipanggang, atau direbus, para atlet di Medan mampu mempertahankan stamina yang lebih panjang dan tidak mudah mengalami kelelahan otot di tengah pertandingan set kedua atau ketiga yang menentukan.
