Cedera merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan seorang atlet profesional, terutama dalam olahraga bela diri yang melibatkan tekanan fisik konstan seperti gulat. Salah satu dampak fisik yang paling ikonik sekaligus menyakitkan bagi seorang pegulat adalah kondisi yang secara medis dikenal sebagai hematoma perikondrial, atau yang lebih populer disebut dengan “cauliflower ear”. Kondisi ini terjadi akibat trauma tumpul berulang pada daun telinga yang menyebabkan pendarahan internal. Jika tidak segera ditangani, proses Drainase Cairan Telinga menjadi prosedur medis wajib untuk mencegah deformitas permanen yang dapat mengganggu fungsi pendengaran dan kenyamanan atlet.
Prosedur ini dilakukan sebagai bagian dari Penanganan Medis standar yang diberikan oleh tim dokter olahraga atau fisioterapis yang bertugas di pusat pelatihan. Cairan yang terperangkap di antara tulang rawan dan kulit telinga harus dikeluarkan menggunakan teknik aspirasi jarum halus atau insisi kecil dalam kondisi yang sangat steril. Jika cairan tersebut dibiarkan mengeras, ia akan membentuk jaringan fibrosa yang membuat daun telinga tampak menebal dan bergelombang. Bagi seorang Pegulat, memiliki telinga yang sehat bukan hanya soal estetika, melainkan juga soal menjaga kualitas hidup dan konsentrasi saat berlatih maupun bertanding di atas matras.
Penyebab utama dari Cedera ini adalah gesekan yang keras atau benturan saat melakukan teknik kuncian leher dan kepala. Tekanan yang kuat menyebabkan pembuluh darah kecil di daun telinga pecah, sehingga ruang di antara lapisan telinga terisi oleh darah dan cairan serosa. Penanganan yang cepat sangatlah krusial; idealnya dilakukan dalam waktu kurang dari 48 jam setelah insiden terjadi. Jika penanganan terlambat, proses penyembuhan akan menjadi jauh lebih kompleks dan menyakitkan. Oleh karena itu, setiap atlet gulat nasional diwajibkan untuk segera melaporkan setiap pembengkakan pada telinga kepada tim medis agar dapat segera diambil tindakan pencegahan sebelum cairan tersebut membeku.
Selama proses pemulihan pasca-drainase, atlet biasanya diwajibkan menggunakan perban tekan atau klip khusus untuk memastikan tidak ada penumpukan cairan kembali di area yang sama. Selain itu, penggunaan pelindung telinga (ear guard) sangat disarankan selama sesi latihan intensitas tinggi untuk meminimalisir trauma tambahan. Di lingkungan federasi, kesadaran akan pentingnya perlindungan telinga mulai ditingkatkan melalui penyediaan alat pelindung yang standar dan berkualitas. Meskipun bagi sebagian pegulat luka ini dianggap sebagai “tanda kehormatan”, secara medis tetap dianggap sebagai cedera yang harus dikelola dengan profesionalisme tinggi demi kesehatan jangka panjang.
