Olahraga gulat memiliki akar yang dalam dalam kebudayaan Nusantara, jauh sebelum federasi gulat modern dibentuk. Berbagai bentuk gulat tradisional, seperti Gulat Sapi di beberapa daerah dan praktik pencak silat yang menyertakan teknik bantingan dan kuncian, menunjukkan bahwa pertarungan fisik dan seni menjatuhkan lawan sudah menjadi bagian integral dari budaya lokal. Namun, Sejarah Gulat sebagai cabang olahraga kompetitif dan modern di Indonesia dimulai secara resmi dengan pembentukan organisasi yang menaunginya. Sejarah Gulat modern Indonesia ditandai oleh perjuangan panjang untuk mendapatkan pengakuan di tingkat internasional.
Titik balik dalam Sejarah Gulat modern Indonesia adalah pendirian Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI). PGSI didirikan pada tanggal 26 Juni 1960 di Jakarta, dengan tujuan untuk membina atlet gulat gaya bebas (freestyle) dan gaya Yunani-Romawi (Greco-Roman) sesuai standar internasional. Pendirian ini membuka jalan bagi atlet Indonesia untuk berpartisipasi dalam ajang olahraga regional dan internasional. Salah satu momen bersejarah adalah keikutsertaan tim gulat Indonesia di Asian Games pada tahun 1962, yang menjadi langkah awal penting dalam memperkenalkan atlet nasional di kancah Asia.
Perkembangan gulat di Indonesia menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal fasilitas dan Program Latihan yang spesifik. Meskipun demikian, semangat Mental Juara para atlet dan dedikasi pelatih terus mendorong prestasi. Pada tahun 1980-an hingga 1990-an, gulat Indonesia mulai menunjukkan taringnya di ajang Sea Games, menjadi salah satu cabang olahraga penyumbang medali emas. Pelatih senior gulat nasional, Bapak Hendra Kusuma, dalam wawancaranya pada hari Selasa, 17 Desember 2024, menekankan bahwa kunci sukses saat itu adalah penerapan disiplin tinggi pada Neck Bridge dan Sistem Latihan Interval untuk membangun daya tahan maksimal.
Langkah menuju panggung Olimpiade adalah ambisi tertinggi. Indonesia telah beberapa kali mengirimkan wakilnya, meskipun tantangan untuk meraih medali sangat berat mengingat dominasi negara-negara Eropa Timur dan Asia Tengah di cabang ini. Upaya terbaru untuk meningkatkan standar dimulai pada tahun 2027, di mana PGSI meluncurkan Protokol Weight Cut berbasis sains yang ketat, bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Olahraga (LIPTO), untuk memastikan atlet berkompetisi dalam kondisi fisik puncak. Sejarah Gulat Indonesia adalah kisah tentang adaptasi, dari tradisi lokal menjadi disiplin olahraga global yang menuntut Endurance Lima Menit Penuh dan teknik yang sempurna.
