Kecepatan dan kelincahan adalah dua faktor pembeda antara pegulat juara dengan pegulat rata-rata. Di Medan, Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Medan menerapkan metode latihan yang tidak konvensional namun sangat efektif untuk mengasah reaksi tubuh, yaitu dengan memanfaatkan dinamika arus air sungai. Pelatihan ini menuntut para atlet untuk melakukan berbagai manuver fisik di dalam air yang mengalir, di mana mereka harus menjaga stabilitas sekaligus mengejar kecepatan gerak yang selaras dengan tekanan arus. Metode ini memanfaatkan resistensi alami air untuk memperkuat otot sekaligus melatih sinkronisasi saraf motorik dengan cara yang tidak bisa direplikasi oleh mesin latihan mana pun di dalam ruangan.
Mengapa arus air dipilih sebagai media latihan? Air memberikan hambatan yang konsisten dari segala arah, yang memaksa seluruh otot tubuh untuk bekerja secara simultan. Saat seorang atlet PGSI Medan berlatih melakukan gerakan shadow wrestling di dalam arus, mereka harus melawan dorongan air yang tidak terduga. Hal ini secara otomatis meningkatkan kecepatan kontraksi otot karena tubuh harus bereaksi lebih cepat untuk mempertahankan posisi. Resistensi air yang lebih besar daripada udara berarti bahwa setiap gerakan yang dilakukan dengan cepat di dalam air akan terasa jauh lebih ringan dan eksplosif saat nantinya dilakukan di atas matras daratan. Ini adalah bentuk latihan beban fungsional yang sangat dinamis.
Latihan ini juga berfokus pada kelincahan kaki (footwork). Dasar sungai yang sering kali tidak rata dikombinasikan dengan arus air yang terus mengalir memaksa pegulat untuk memiliki pijakan yang sangat responsif. Di dalam dunia gulat, kehilangan keseimbangan sesaat saja bisa berarti kekalahan. Dengan melatih kecepatan gerak di bawah tekanan arus, atlet belajar untuk selalu waspada terhadap setiap pergeseran pusat gravitasi mereka. Kepekaan terhadap perubahan arah beban ini sangat krusial saat menghadapi lawan yang memiliki gaya bertarung cepat. Atlet yang sudah terbiasa bergerak lincah di dalam air akan memiliki langkah kaki yang sangat licin dan sulit untuk ditangkap oleh lawan saat bertanding di arena resmi.
Selain itu, pelatihan mengikuti arus air ini sangat baik untuk melatih stamina anaerobik. Bergerak dengan kecepatan tinggi melawan arus membutuhkan ledakan energi yang besar dalam waktu singkat. PGSI Medan menyusun latihan ini dalam bentuk simulasi serangan dan pertahanan di air dangkal yang mengalir deras. Proses ini memaksa jantung dan paru-paru bekerja ekstra keras untuk menyuplai oksigen ke otot-otot yang sedang bekerja melawan hambatan air. Hasilnya, kapasitas paru-paru atlet meningkat, dan mereka memiliki daya ledak yang lebih tahan lama. Di ronde terakhir pertandingan, di mana kelelahan mulai melanda, atlet yang memiliki dasar latihan arus air ini biasanya tetap mampu menjaga intensitas gerakannya tetap tinggi.
