Dalam setiap pertandingan gulat, mata penonton seringkali tertuju pada bantingan hebat atau kuncian yang rapat, namun para pengamat ahli selalu memperhatikan apa yang terjadi di bawah: kerja kaki. Di kancah gulat nasional, terdapat satu daerah yang sangat disegani karena penguasaan gerak kakinya yang luar biasa, yaitu Medan. Konsep Footwork Matras yang dikembangkan oleh para pelatih di sana telah menjadi momok bagi lawan-lawan mereka. Atlet-atlet ini seolah memiliki radar di kaki mereka, memungkinkan mereka untuk selalu berada di posisi yang menguntungkan sementara lawan kesulitan mencari pijakan yang stabil.
Keunggulan Kelincahan Kaki dari para pegulat di bawah naungan PGSI Medan bukan merupakan bakat alami semata, melainkan hasil dari latihan spesifik yang sangat keras. Mereka memandang matras bukan sebagai permukaan yang diam, melainkan sebagai elemen yang harus “dimainkan”. Latihan harian di Medan seringkali melibatkan penggunaan tangga ketangkasan (agility ladder) dan pola langkah segitiga yang diadopsi dari berbagai disiplin bela diri lainnya untuk meningkatkan sinkronisasi antara mata dan kaki. Hal inilah yang membuat pergerakan mereka sangat sulit ditebak dan sering kali membuat lawan kehilangan keseimbangan hanya karena pergeseran posisi yang halus.
Dalam taktik gulat modern, Footwork yang baik adalah kunci dari pertahanan dan serangan sekaligus. Seorang pegulat yang memiliki langkah kaki yang cepat dapat melakukan sprawl lebih efektif karena mereka mampu menarik kaki mereka ke belakang dalam sekejap saat diserang. Di sisi lain, saat melakukan serangan, kemampuan untuk “menutup jarak” dengan langkah kecil namun cepat memungkinkan mereka untuk masuk ke area pertahanan lawan tanpa memberikan sinyal peringatan. Para atlet di Medan dikenal sangat mahir dalam menciptakan sudut serangan (creating angles) melalui langkah samping yang sangat tajam, sehingga mereka selalu bisa menyerang dari sisi buta lawan.
Mengapa gaya bermain dari PGSI di Sumatera Utara ini begitu Sulit Dikejar? Jawabannya terletak pada stamina kaki mereka. Kebanyakan pegulat akan mulai melambat seiring berjalannya waktu, namun atlet dari daerah ini dididik untuk mempertahankan kualitas langkah mereka hingga detik terakhir pertandingan. Mereka menggunakan prinsip “langkah ringan, pijakan berat”, di mana mereka bergerak dengan sangat lincah saat bermanuver, namun seketika menjadi sangat kokoh dan sulit digeser saat melakukan kontak fisik. Stabilitas ini berasal dari kekuatan otot-otot betis dan paha depan yang dilatih secara khusus untuk daya tahan dinamis di atas matras.
