Integritas dan fair play adalah pilar utama dalam olahraga gulat, dan pelanggaran terhadap etika ini ditangani dengan hukuman yang tegas. Sanksi Terberat yang dapat dijatuhkan kepada seorang pegulat di tengah pertandingan adalah diskualifikasi (DQ). Diskualifikasi ini umumnya terjadi bukan karena satu kesalahan teknis yang fatal, tetapi akibat akumulasi pelanggaran atau kecurangan yang disengaja dan berulang yang menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap aturan dan keselamatan lawan. Memahami ambang batas dan jenis kecurangan yang memicu Sanksi Terberat ini sangat penting bagi setiap atlet dan pelatih.
Salah satu jalur utama menuju Sanksi Terberat adalah melalui pelanggaran passivity atau stalling (menghambat pertandingan) yang berulang. Seperti dibahas dalam peraturan gulat, stalling yang disengaja untuk mengulur waktu atau menghindari aksi akan diberikan peringatan kumulatif. Di bawah aturan yang ditetapkan oleh United World Wrestling (UWW), peringatan keempat untuk stalling secara otomatis akan berujung pada diskualifikasi. Kepala Komite Disiplin Gulat, Bapak T. Herawan, S.H., M.H., dalam konferensi pers pada tanggal 14 September 2025, menegaskan bahwa aturan ini diterapkan untuk memastikan gulat tetap menjadi tontonan yang aktif dan agresif.
Jenis kecurangan lain yang dapat memicu Sanksi Terberat adalah Illegal Holds (pegangan terlarang) yang membahayakan keselamatan lawan, seperti kuncian sendi yang dipelintir atau gerakan slam (membanting) yang tidak terkontrol. Meskipun pelanggaran Illegal Hold pertama mungkin hanya menghasilkan peringatan dan poin untuk lawan, pengulangan pelanggaran yang sama, terutama setelah peringatan wasit, dapat segera meningkatkan hukuman menjadi diskualifikasi. Contohnya, jika seorang atlet melakukan Illegal Hold dan wasit telah memberikan peringatan kedua, pelanggaran serupa yang terjadi dalam 30 detik berikutnya seringkali memicu diskualifikasi langsung karena dianggap mengabaikan otoritas wasit.
Untuk mencegah atlet mencapai ambang Sanksi Terberat, pelatihan disiplin dan kepatuhan aturan harus dilakukan sejak dini. Pelatih Etika dan Disiplin Tim Junior, Ibu Maya Dewi, S.Psi., menerapkan sesi pelatihan video dan simulasi pelanggaran setiap hari Senin pagi selama 50 menit. Tujuannya adalah melatih atlet untuk mengendalikan emosi dan naluri curang di bawah tekanan. Diskualifikasi bukan hanya kerugian satu pertandingan, tetapi juga mencoreng reputasi atlet dan berpotensi berdampak pada karier mereka di masa depan, menjadikannya risiko yang harus dihindari dengan segala cara.
